Latest News

Inilah Sejarah Munculnya Maulidan Jawiyan Khas Desa Padurenan Pada Perayaan Maulid

SEPUTARKUDUS.COM, PADURENAN - Suara bacaan Albarzanji terdengar keras dari arah Masjid Asy-Syarif I Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kudus. Di masjid itu empat orang berbaju koko putih terlihat sedang membaca kitab Albarzanji di depan ratusan warga yang hadir pada kegiatan Gebyar Maulidan Jawiyan. Nada yang dilantunkan terdengar menggunakan aksen Jawa.
maulidan jawiyyan kudus
Masyarakat Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, membaca Selawat Albarzanji menggunakan aksen Jawa pada Maulidan Jawiyan. Foto Imam Arwindra
Menurut, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Padurenan Ahmad Wafiy Baq, pembacaan Albarzanji di Desa Padurenan, nadanya berbeda dengan pada umumnya. Nadanya yang dilantunkan lebih tinggi, lantang dan menggunakan aksen Jawa. "Kalau orang awam memang cukup sulit, coba dengarkan pasti berbeda. Ada syair (aksen) Jawanya. Sangat jelas kalimat Rahim jadi Rahem," jelasnya kepada Seputarkudus.com, Minggu (11/12/2016).

Wafiy menuturkan, muncul pertama kali syair Maulidan Jawiyan di Desa Padurenan dipelopori oleh Raden Muhammad Syarif. Menurutnya, dia sosok ulama atau wali bukan kelahiran Desa Padurenan melainkan pendatang dari luar Kabupaten Kudus. Dia konon mendirikan masjid untuk beribadah dan penyebaran agama islam di Desa Padurenan. “Masjid tersebut sekarang bernama Masjid Asy-Syarif I Desa Padurenan. Dan makam Raden Muhammad Syarif tepat dibelakang masjid,” jelasnya.

Ulwan Hakim tokoh masyarakat Padurenan yang juga anggota Komisi A DPRD Kudus Fraksi Persatuan Bintang Pembangunan (FPBP) menambahkan, konon Raden Muhammad Syarif datang dari Madura sekitar 400an tahun yang lalu. Dia datang ke Kudus setelah menyebrangi lautan menggunakan gentong dan turun di Jepara. “Makanya di Jepara ada desa yang bernama Saripan. Itu kemungkinan dari nama Raden Muhammad Syarif,” tuturnya.

Menurut Ulwan, untuk membaca Albarzanji dengan Maulidan Jawiyan khas Padurenan tidak semudah yang bayangkan orang-orang. Syair lagunya dengan aksen Jawa, nada tinggi dengan cengkok naik turun. Karena saking sulitnya, dulu dikhawatirkan tidak ada yang meneruskan. Dikarenakan, angkatan 1980an sejumlah 13 orang yang mewarisi bakat tersebut sudah banyak yang meninggal. “Itu angkatannya Yi Taufiq yang sudah sepuh,” tambahnya.

Namun sekarang sudah ada generasi muda yang mau belajar tentang nada tersebut yang tergabung dalam Al-Ansor. Proses belajar mereka tidaklah mudah,  sepekan mereka belajar dua kali. Saat sudah berjalan satu bulan mereka belum bisa menguasainya. “Jumlahnya ada 10 orang, satu tidak cukup,” jelasnya.

Selain itu mereka harus gurah supaya suara tingginya kuat. Sekitar setengah tahun dengan maraton akhirnya Al-Ansor menguasai, namun belum sempurna. Menurutnya, nada Maulidan Jawiyan khas Paduran sudah menyebar ke desa-desa di Kabupaten Kudus. Namun lagi-lagi belum seperti orang-orang angkatan 1980an. “Coba tunggu sampai Asroqol  nanti terdengar tinggi dan rumit,” pintanya.