Latest News

Terinspirasi Mantan Bos Seorang Nasrani, Basuki Pilih Libur pada Hari Jumat untuk Beribadah

SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN - Di atas trotoar Jalan KH Noor Hadi, Kudus, tepatnya di Desa Janggalan, Kecamatan Kota, terlihat sebuah kios kecil terbentang spanduk tertulis "Permak Farah Aulia". Di dalam kios beratap seng tersebut, tampak seorang wanita berjilbab dan seorang pria sibuk menjahit pakaian. Di belakangnya, sebuah lemari merah terdapat tulisan "Jumat libur".
permak pakaian di kudus
Basuki (dua dari kiri) mengerjakan permak pakaian milik pelanggannya. Foto: Rabu Sipan


Pria yang tengah menjahit pakaian tersebut bernama Noor Basuki. Kepada Seputarkudus.com, Basuki menjelaskan, tulisan yang tertera di lemari itu sebagai pemberitahuan kepada pelanggannya, bahwa pada Jumat dia tidak melayani pelanggan karena libur. Dipilihnya Jumat sebagai jeda waktu kerja itu terinspirasi dari mantan bosnya yang seorang non-Muslim beragama Nasrani.

Dia menceritakan, sebelum memulai usaha penyedia jasa permak pakaian, dirinya pernah bekerja kepada tetangganya yang memiliki usaha pembuatan tas. Dan kebetulan bosnya tersebut seorang Nasrani. Suatu hari ada seorang pemesan tas yang minta tas pesanan tersebut di antarkan hari Minggu. Namun permintaan tersebut ditolak bosnya.

“Pada waktu itu bos menolak mengirim pesanan tas hari Minggu. Padahal pemesan berani mengganti ongkos kirim dua kali lipat. Namun bosku tetap menolaknya. Dia beralasan kepada pemesan, enam hari sudah bekerja untuk menyenangkan pelanggan, dan hari Minggu dibuat untuk beribadah,” ucap Basuki.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Pasuruan Kidul tersebut mengatakan, setelah mendengar percakapan bosnya melalui telepon tersebut, dia berujar dalam hatinya. Bila kelak dirinya bisa memiliki usaha, sehari dalam sepekan dia akan libur pada Jumat untuk digunakan beribadah.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut mengaku sudah sekitar lima tahun membuka usaha permak pakaian di tepi jalan. Namun dua tahun sebelumnya dia juga sudah menerima jasa jahitan yang dia kerjakan pada malam hari.

“Sebelum membuka usaha di pinggir jalan terlebih dulu aku menerima jahitan yang aku jadikan sampingan dan aku kerjakan pada malam hari. Karena pada waktu itu aku masih bekerja ikut orang lain,” ungkapnya 

Setelah usaha sampingannya berjalan dua tahun dan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Basuki lalu memutuskan keluar dari tempatnya bekerha dan membuka usaha mandiri. Karena rumahnya tidak berada di tepi jalan, dia lalu membuka usaha permak pakaian untuk di tepi Jalan KH Noor Hadi. Bila pesanan sedang ramai, dia juga mengerjakan order dari pelanggan di rumahnya pada malam hari.

Pria yang menamai usaha dengan nama kedua anaknya tersebut mengatakan, selain permak pakaian dia juga menerima pembuatan pakaian baru dan harga disesuaikan bahan serta bentuknya. Begitu juga ongkos permak, bila tidak ada yang perlu diganti ongkos permak minimal Rp 5 ribu untuk satu pakaian. Tapi bila ada yang perlu diganti harga disesuaikan barang yang diganti.

Basuki mengaku usahanya tersebut buka pada Sabtu hingga Kamis. Sedangkan setiap Jumat tutup. Dan untuk mengerjakan semua pesanan, dia dibantu sama satu orang penjahit perempuan.

“Usaha permak pakaianku ini melayani pria dan wanita, jadi aku sengaja menambah tenaga seorang penjahit wanita untuk mengukur badan para pelanggan wanita,” ungkap Basuki.