Latest News

Meski Lelah, Mbah Sofi Tetap Berjalan Kaki Keliling Menara untuk Menjual Jajanan Karena Tak Laku di Pasar

SEPUTARKUDUS.COM, MENARA - Di atas trotoar Jalan Sunan Kudus terlihat seorang wanita renta berkerudung warna merah jambu berjalan menggendong sebuah antingan berwarna biru. Di dalam antingan terdapat beberapa gorengan, onde-onde, sate hati, dan beberapa bungkus kacang rebus. Di kedua tanganya membawa termos dan antingan lain. Perempuan renta itu bernama Sofiatun (72), penjual jajanan keliling di sekitar Masjid Menara Kudus.

penjual jajanan
Mbah Sofi menyusuri jalan di kawasan Menara Kudus menjual jajanan. Foto: Rabu Sipan


Langkahnya terhenti di satu sudut jalan kawasan Menara Kudus. Dia menurunkan barang dagangannya karena lelah, dan ingin beristirahat. Sambil duduk di atas trotoar, dia sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. 

Dia mengaku sebenarnya berjualan aneka jajanan di pasar bantaran Sungai Gelis. Namun saat aneka jajanan yang dia jual tidak habis, Nbah Sofi menjajakan jajananya dengan berkeliling kawasan Menara Kudus.

“Jajanan yang aku jual belum habis, padahal hampir seharian aku menjualnya di pasar Sungai Gelis. Bahkan saat aku menjajakan di trotoar depan Masjid Menara, belum ada seorang pun yang sudi membeli daganganku. Padahal aku sudah lelah," keluh Mbah Sofi sambil memegangi pinggangnya.

Perempuan yang berasal dari Desa Nalumsari, Jepara, mengatakan, aneka jajanan yang dia jual di antaranya onde-onde, gorengan tahu, bakwan, sate ati ampela, kacang rebus serta beberapa kerupuk, peyek, dan gula kacang.



“Untuk dagangan yang tidak basi yang tidak laku hari ini, aku titipkan di pedagang lain di pasar Sungai Gelis. Lalu aku jual kembali di keesokan harinya, itupun kalau aku berangkat berjualan. Maklum raga renta yang sewaktu-waktu bisa jatuh sakit," ujar perempuan lima cucu tersebut.

Di sela obrolan, datang seorang wanita berkerudung putih membeli beberapa bakwan. Kemudian datang juga seorang pria membeli beberapa bungkus kacang rebus. Setelah pria tersebut memberikan uang tampak Mbah Sofi tersenyum. “Alhamdulillah bisa buat nambah ongkos pulang," gumamnya sambil memasukan uang ke dompet lusuhnya. 

Mbah Sofi mengaku, sebenarnya dilarang anak-anaknya untuk berjualan. Tapi karena dia tidak ingin merepotkan anak-anaknya, dia memilih tetap berjualan. Dia pernah merasakan bagaimana sulitnya mencari nafkah dan membiayai anak-anaknya. Oleh karena itu, saat raganya sudah renta dia tidak ingin jadi beban tambahan untuk anak-anaknya.

“Apalagi mereka juga mengkuliahkan anak-anak mereka, yang pasti membutuhkan biaya tidak sedikit," ujar Mbah Sofi.