Latest News

Perempatan (4) Sleko Sangat Tak Asing di Telinga Masyarakat, Namun Tak Banyak yang Tahu Artinya

SEPUTARKUDUS.COM, SLEKO – Pengendara dari Jalan Tanjung dan Jalan Johar telihat berpapasan di perempatan yang memisahkan Desa Kramat, Kelurahan Wergu Kulon dan Wergu Wetan. Sementara itu dari arah Jalan Pramuka dan Jalan Pemuda mereka berhenti mengikuti lampu merah. Di arah timur laut perempatan tersebut, berdiri pos polisi dengan warna blester biru putih. Pos tersebut tertulis "Pos Polisi Sleko".

perempatan sleko kudus


Perempatan Sleko, begitu masyarakat Kudus menyebut perempatan di kawasan itu. Perempatan tersebut menghubungkan Jalan Pemuda, Jalan Pramuka, Jalan Tanjung dan Jalan Johar. Ke arah barat perempatan, menuju arah Alun-alun SimpangTujuh Kudus. Sedangkan ke arah timur menuju Mejobo, dan ke selatan menuju Stasiun Johar, serta ke arah utara ke Jalan Jendral Sudirman.

Di seberang jalan arah Jalan Pemuda, terdapat toko rokok dengan nama MKSB, dan di depannya terdapat toko ponsel X-Treme Cell. Menurut Harjanto Tirto (64) pemilik toko MKSB, jalan di depan toko miliknya dulu bernama Jalan Sleko.  “Seingat saya dulu dari cerita kakek, nama Jalan Pemuda dulunya adalah Jalan Sleko. Mungkin kenapa daerah sini namanya Sleko,” tutur dia saat ditemui di tokonya belum lama ini.

Dia mengungkapkan, untuk detailnya kenapa namanya Sleko dia tidak tahu. Menurutnya, sejak dia lahir, di sekitar perempatan sudah terkenal dengan sebutan Sleko. “Rumah yang saya tempati ini dari kakek saya, ya sudah lama. Nama daerah di sini sejak dulu sudah Sleko. Mungkin muncul nama Sleko sejak zaman penjajahan Belanda,” terang dia.

Saat ditemui Seputarkudus.com di Balai Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kepala Desa Kramat, Tulistyono menuturkan, nama Sleko sudah ada sebelum dia lahir. Dia memberitahukan, di sekitar Perempatan Sleko banyak tinggal warga etnis Tionghoa. “Daerah tersebut orang Jawanya sedikit, sebagian besar etnis Tionghoa yang bermukim dan juga berdagang,” tuturnya.

Secara detail kenapa disebut Sleko dia kurang tahu. Menurutnya, ada kemungkinan kata sleko bukanlah kata dalam Bahasa Jawa, yakni bahasa yang diserap dari Tiongkok. Karena secara geografis, sudah sejak zaman dulu orang-orang Tionghoa banyak berdagang dan bermukim di kawasan tersebut. “Mereka berjualan sembako, menjual besi-besi dan bahan bangunan lainnya di perempatan arah stasiun lama Johar (Jalan Johar),” terangnya.

Tulistiono menambahkan, ada yang menyebut dulu daerah sekitar Perempatan Sleko sebagai kawasan pecinan (sebuah kawasan yang mayoritas dihuni orang Tionghoa). “Wah ini memang perlu dibedah bersama-sama. Kenapa namanya Sleko,” ungkap dia.