Latest News

Sanphet Khetnakhon, Mahasiswa Baru UMK Asal Thailand yang Ingin Belajar Islam di Kota Santri

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Di depan aula Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK), terlihat seorang pria mengenakan pakaian putih hitam, duduk dan berbincang dengan perempuan berjas almamater UMK. Tampak sejumlah mahasiswa yang datang ke aula masjid terdiam dan duduk dikursi sembari mendengarkan perbincangan pria dan wanita tersebut yang menggunakan Bahasa Inggris. 
mahasiswa umk asal thailand
Mahasiswa UMK asal Thailand. Foto: Sutopo Ahmad


Pria tersebut bernama Sanphet Khetnakhon (21), warga asli Thailand yang kuliah di UMK dan sedang mengikuti Masa Penerimaan Mahasiswa Baru (Sapamaba). Perempuan yang tengah berbincang dengan Sanphet, yakni Nurul, mahasiswi UMK yang Jurusan Bahasa Inggris yang mendampinginya.  

Di sela mengikuti kegiatan Sapamaba, Sanphet sudi untuk berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, didampingi Nurul yang menjadi penerjemah. Dia mengungkapkan, dirinya kuliah di UMK karena saran dari sebuah yayasan Islam di Thailand yang memberikannya beasiswa hingga sarjana.

“Awalnya saya mendapatkan beasiswa kuliah di Indonesia, saya datang ke yayasan Islam di Thailand, untuk konsultasi terkait tempat saya kuliah di Indonesia. Yayasan menyarankan saya untuk kuliah di UMK. Katanya, Kudus kota santri dan Indonesia mayoritas Muslim," ujar Sanphet yang memilih Jurusan Bahasa Inggris di Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan.

Karena saran tersebut, dia memutuskan kuliah di UMK sekaligus memperdalam Islam di Kudus. Dia memantapkan diri untuk tinggal dan belajar di Kudus, meski dirinya tak menguasai Bahasa Indonesia, apalagi Bahasa Jawa.


Sanphet mengaku sama sekali belum pernah datang ke Indonesia dan tak memiliki kerabat atau saudara di negeri mayoritas Islam ini. Dirinya sudah lima hari di Kudus, dan tinggal di perumahan Muria Indah. “Saya tinggal bersama Pak Edi, salah satu staf UMK,” terangnya.

Menurutnya, untuk bisa berbahasa Indonesia, dia mengaku sering mengamati orang berbicara. Saat berkomunikasi, dirinya menggunakan Bahasa Inggris. Jika lawan bicaranya tak mengerti, dia menggunakan bahasa tubuh. 

“Tidak ada yang mengajari saya Bahasa Indonesia. Bisanya saya mengamati orang berbicara, sambil berfikir kira-kira apa yang sedang dibicarakan,” imbuhnya.

Meski demikian, dia mengaku betah tinggal di Kudus. Menurutnya, Kudus kota kecil namun masyarakatnya ramah. Untuk masakan, dia mangaku sangat suka dengan masakan Indonesia dibanding Thailand. “Masakan Thailand rasanya terlalu pedas, kalau Indonesia tidak begitu pedas dan saya sangat suka dengan masakan soto kerbau,” ungkapnya.

Sanphet menambahkan, dirinya mendapatkan beasiswa selama empat tahun, dan dia akan bertanggung jawab dengan pemberi beasiswanya. Dia mengaku akan pulang saat mendapatkan gelar sarjana. 

“Saya akan pulang setelah memperoleh gelar sarjana. Saya tidak punya ongkos ke Thailand, jadi saya pulang setelah empat tahun belajar di sini,” tambahnya.