Latest News

Grup Assalam Pikat Juri dan Penonton Festival Tongtek dengan Pakaian Khas Jawa

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM KULON – Riuh tepuk tangan terdengar ramai menyambut kedatangan peserta Festival Tongtek yang akan menampilkan kreasi tongtek di Depan Masjid Wali Loram Kulon, Sabtu (25/6/2016) malam. Satu di antara peserta tongtek yakni grup Assalam yang mengenakan pakaian lurik dan blangkon. Mereka membawa perlengkapan musik yang hampir keseluruhan berbahan bambu.


Peserta Festival Tongtek Kec Jati Kudus
Pelatih grup Assalam, Ari (29), menuturkan, dalam Festival Tongtek yang diadakan Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Jati, timnya ingin menampilkan pertunjukan dengan khas adat Jawa.

Grup Assalam yang terdiri dari 10 orang,  mengenakan baju lurik dan blangkon khas Jawa berwarna coklat. Bbawahannya, mereka mengenakan celana pendek berwarna hitam dengan bergaris merah. “Untuk musiknya kami tidak menggunakan alat elektonik. Kami memilih yang alami, yakni kentongan dan angklung berbahan bambu,” jelasnya kepada Seputarkudus.com.

Ari memberitahukan, persiapan untuk mengikuti kegiatan tersebut hanya dua hari. Menurutnya, dia bersama timnya hanya ingin ikut meramaikan kegiatan yang telah menjadi tradisi masyarakat Jawa. “Tongtek termasuk tradisi yang melekat di masyarakat Jawa. Terebih ketika Ramadan, tradisi ini digunakan membangunkan orang untuk sahur,” ungkapnya.

Dia yang mendapatkan nomor urut delapan menuturkan, rata-rata anggotanya siswa SMK Muhammadiyah. Dia mengajak mereka untuk ikut melestarikan tradisi tongtek yang mulai hilang. “Di daerah saya, anak-anak yang biasanya tongtek menjelang sahur sudah mulai tidak ada. Sepatutnya kita harus menjaga tradisi ini,” tambahnya.


Ketua panitia Festival Tongtek Eko Budi Setiawan mengungkapkan, kegiatan ini diikuti 35 tim. Tongtek dimulai dari Lapangan Kongsi Loram Wetan menuju Masjid Wali Loram Kulon. “Tongtek dimulai usai salat Tarawih dan berakhir sekitar jam 23.00 WIB,” tuturnya.

Menurutnya, peserta lomba diberi waktu lima menit untuk menampilkan kreasi mereka di depan juri dan masyarakat yang hadir. “Penilainnya tentang keindahan musik tongtek, kreativitas, dan kekompakan,” jelasnya.


Menurutnya, dalam perlombaan tongtek, peserta tidak diperkenankan menggunakan alat musik elektronik. Setiap grupnya terdiri dari 10-15 orang. “Tim terbaik mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 1,5 juta dan trofi,” tuturnya.

Dia menambahkan kegiatan ini pertama kali digelar oleh PAC Ansor dan IPNU Jati. Menurutnya, kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan traidis yang mulai ditinggalkan. “Seiring berkembangannya zaman, tongtek mulai ditinggalkan,”tambahnya.