Latest News

Busiri Ketagihan Ngopi di Warung Pertigaan Kaliputu Karena Bisa Bermain Catur Sepuasnya

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU - Papan catur berukuran besar terlihat di tepi jalan Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus. Papan catur tersebut tepat di samping warung kopi, yang juga menyediakan makanan serta minuman lainnya. Dua orang lelaki tampak asyik duduk berhadapan di depan papan catur tersebut. Satu di antara lalaki itu, Busiri. Dia mengaku betah ngopi sambil main catur di warung tersebut.
warung menyediakan papan catur
Sejumlah orang bermain catur yang disediakan pemilik warung di Kaliputu, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi


Busiri sehari-hari bekerja sebagai seorang sopir. Saat bermain catur itu dia sedang tidak bekerja. Kepada Seputarkudus.com dia mengatakan, daripada di rumah tak ada kegiatan, dirinya memilih mengisi waktu bermain catur di warung yang letaknya di pertigaan Desa Kaliputu arah Desa Bacin, Kecamatan Bae, tersebut. 

“Saya sering ke sini (warung) saat tidak ada pekerjaan. Daripada di rumah tidak ada kegiatan, saya ke sini untuk bermain catur. Biasanya saya nyetir, ini kebetulan sedang tidak ada job,” ungkap warga Desa Bacin itu.

Di dalam warung itu terlihat seorang perempuan sedang menata nasi bungkus yang dijual. Dia adalah Nurul Hidayah (53), pemilik warung yang menyediakan enam papan catur untuk pelanggannya. Menurutnya, dengan adanya papan catur di warungnya itu, banyak pelanggan setia yang datang ngopi sambil bermain catur.


Hidayah mengungkapkan catur yang dia sediakan di warungnya dipesan suaminya dari Jepara. Ide untuk menempatkan papan catur di warungnya, berawal dari suaminya yang suka bermain catur. Dengan begitu, banyak pelanggan yang datang untuk bermain catur sekaligus membeli minuman dan makanan yang dia jual.

“Suami saya hobi bermain catur, jadi disediakan catur di warung. Ternyata ini cukup efektif menarik pengunjung. Suami saya yang menjadi kepala desa (Kaliputu) juga ke sini membantu saya setelah bekerja. Biasanya, kata Hidayah, pelanggan banyak berdatangan untuk bermain catur sekitar pukul 14.00 WIB hingga 17.30 WIB," ungkap Hidayah.

Sambil menata dagangannya, Hidayah juga merinci harga makanan yang dijualnya. Nasi bungkus dia jual seharga Rp 2 ribu, gorengan Rp 1.000, kerupuk Rp 500, telur asin Rp 3 ribu, telur puyuh Rp 2.500, susu kedelai Rp 1.500, bolu Rp 1.000 dan brownis Rp 1.000.

“Selain itu juga ada Kopi Jetak, Kopi Lasem, teh botol, dan air mineral. Kebanyakan makanan di sini titipan, saya bikin nasi bungkusnya saja,” jelas ibu tiga anak itu.

Dia juga mengungkapkan hasil berjualan dari warung yang dibukanya mulai pukul 6.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB bisa mendapat keuntungan sekitar Rp 200 ribu per hari. Meski kadang masih ada sisa nasi, Hidayah mengaku masih ada keuntungan dari daganannya yang lain. Nasi yang tersisa biasanya diberikan tetangganya di rumahnya.