Latest News

Keren, Film Macan Putih Muria Karya Omah Dongeng Marwah Tuai Pujian Netizen di Youtube

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Pesawat tempur terlihat melintas di atas kerumunan warga. Suara bom terdengar meledak membuat warga berlarian menyelamatkan diri. Tampak perempuan penjual buku mengayuh kencang sepedanya, namun akhirnya tertembak mati oleh pasukan Belanda. Adegan tersebut termuat dalam film berdurasi 19.56 berjudul Macan Putih Muria. Film tersebut diproduksi oleh Komunitas Omah Dongeng Marwah.
Film Macan Putih Muria
Satu adegan di dalam film Macan Putih Muria karya Omah Dongeng Marwah. Foto-foto: Capture Youtube
Menurut Arif Rohman (24), pendamping di Omah Dongeng Marwah, ide film tersebut dibuat oleh Edy Supartno, pencetus Omah Dongeng Marwah yang juga sejarawan di Kudus. Pembuatannya sebagian besar dilakukan oleh anak didik Omah Dongeng Marwah. “Untuk pemain (film) anak-anak sendiri yang berperan,” tuturnya saat ditemui di kegiatan Omah Dongeng Marwah belum lama ini.

Kepada Seputarkudus.com Arif memberitahukan, selain diperankan oleh anak-anak, fotografi dan editor film juga dikerjakan sendiri oleh anak didik Omah Dongeng Marwah. Menurutnya, sebagai editor film yakni Orion Bima Wicakana. “Film ini memang dipersiapkan jauh hari untuk menyambut kemerdekaan Indonesia ke-71,” terangnya.

Film yang Macan Putih Muria dimainkan 25 orang yang skenarionya langsung buat Edy Supartno. Beragam komentar ditulis nitizen yang melihat di akun Omah Dongeng Marwah di Youtube. Di antaranya akun bernama Hendira Sorentia, menurutnya cerita yang dibuat oleh anak-anak sungguh luar biasa. “Sip keren ini, saya kasih jempol saya, anak-anak hebat,” ungkapnya dalam akun Erwin OD.

Dalam film yang diunggah di Youtube pada 29 Agustus tersebut, pesawat tempur Belanda yang membom pemukiman warga di Kudus tanggal 19 Desember 1948 pada awal cerita. Saat itu fasilitas publik yang hancur yakni Stasiun Kudus, Paseban Bupati Kudus dan Pabrik Muria Tex.

Tidak hanya lewat udara, pasukan Belanda pun melakukan agresi militer lewat darat. Beberapa masyarakat pun banyak yang terbunuh. Di antaranya, penjual buku yang diperankan oleh Naila Rahmandaning Tyas.

Film tersebut juga menceritakan tentara Indonesia yang berhasil merebut senjata di Pos Belanda di Dukuh Waringin, Dawe, Kudus. Namun dalam perjalanannya memimpin perang ke wilayah Muria pasukan Indonesia sudah dicegat oleh pasukan Belanda di Desa Bergad, Pati, karena ada informasi bocor. Akhirnya komandan pasukan Indonesia bernama Kapten Ali Mahmudi tewas saat penyergapan.

Komandan pasukan Indonesia akhirnya digantikan Mayor Kusmanto yang memindahkan pos pasukannya di Desa Glagah Kulon, Dawe, Kudus. Bersama pasukannya, Mayor Kusmanto melakukan gerilya yang akhirnya pada 27 Desember 1949 pasukan Belanda menyerahkan Kudus kepada tentara Indonesia.

Dalam film tersebut menyebutkan, pasukan Indonesia yang bernama Macan Putih Muria dibuatkan monumen Macan Putih Muria di Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kudus. Namun kalimat yang mengundang penasaran muncul pada akhiran penayangan. Tertulis, "Tapi, siapakah anak tersebut? mengapa ia selalu membantu tentara Indonesia? Lalu, apakah hubungan anak itu dengan seekor macan mutih?"

Berikut film Macan Putih Muria yang telah diunggah di Youtube.