Latest News

Penjual Mainan Asal Demak Ini Tetap Bersyukur, Meski Sehari Dapat Kurang dari Rp 10 Ribu

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN- Seorang lelaku tua berperawakan kurus menuntun sepeda melintas di lampu merah Jalan Sempalan, tak jauh dari Rumah Sakit Mardi Rahayu. Di boncengan sepeda yang dia bawa, puluhan mainan digantung pada batang bambu. Paiman (65), nama lelaki tersebut. Dia mengayuh sepedanya dari Gajah, Demak ke Kudus untuk menjual mainan yang dia bawa. Meski rasa lelah dia rasakan, tak jarang dia hanya mendapat kurang dari Rp 10 ribu sehari, karena mainannya tak begitu diminati.

 Seusai menyeberangi jalan dan menepi, Paiman berbagi kisahnya dalam menjual mainannya dari Demak ke Kudus. Dia menuturkan, hampir setiap hari dia berjualan mainan anak-anak di Kudus dengan mengayuh sepedanya berkeliling dari satu kampung ke kampung yang lain.

“Aku hari ini sudah berkeliling menjual mainan, tetapi sampai se siang aku baru mendapatkan uang Rp 10 ribu. Hasil dari menjual dua balon dan sebuah mobil-mobilan kecil,” ujar Paiman kepada Seputarkudus.com belum lama ini.

Pria yang di hari itu mengenakan kemeja panjang dan celana kain warna hitam tersebut mangatakan, berjualan mainan anak memang tidak menentu hasilnya. Saat laris, sehari dirinya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 50 ribu.

“Tetapi kalau lagi sepi seperti hari ini, paling hanya mendapatkan Rp 10 ribu, kadang kurang dari itu. Tetapi aku tetap bersukur,” ujar Paiman sambil tersenyum.

Pria murah senyum itu menuturkan, dia berangkat berjualan dari rumahnya di Desa Mojosimo, Kecamatan Gajah, Demak, sekitar pukul 06.00 WIB, dan pulang sekitar pukul 16.30 WIB.

Paiman mangaku sudah sekitar 20 tahun berjualan mainan anak, dengan modal sekitar Rp 100 ribu. “Aku menggunakan sepeda ontel untuk berjualan sejak pertama mulai berjualan. Sebenarnya kalau punya duit, aku ingin membeli motor, agar hasilnya bisa banyak dan badan tidak lelah,” harapnya.