Latest News

Kiss, Perempuan Asal Cluwak Pati Ini Coba Peruntungan di Kota Kretek Jual Batik Tulis Bakaran Khas Pati

SEPUTARKUDUS.COM. JEPANG PAKIS – Di tepi Jalan Pattimura, tepatnya di komplek ruko Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus, terlihat sejumlah batik tertata rapi menghiasi ruangan ruko. Di atas ruko, terdapat papan berukuran sedang tertera tulisan Batik Tulis Bakaran Gading Tjokro. Pemilik usaha tersebut di ketahui Kiss Devi (36), seorang wanita yang mantab menjual batik khas Pati di Kudus.
batik bakaran pati
Kiss menunjukkan kreasi Bakaran Pati di toko miliknya, di Desa Jepang Pakis, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad 


Kepada Seputarkudus.com, Kiss begitu dia akrab disapa, menjelaskan, menekuni usaha batik tulis sudah lebih dari satu tahun empat bulan. Menurutnya, batik tulis bakaran memiliki tingkat kesulitan tersendiri dalam proses pengerjaan. Sewaktu pertama kali melihat, dia mengaku kagum dan seketika itu ingin membuka usaha batik tulis bakaran asal Pati di Kota Kretek.

“Awalnya saya tertarik dengan apa yang namanya seni. Batik tulis bakaran pengerjaannya kan begitu luar biasa. Bagi orang yang cinta terhadap seni, berapapun harga yang ditawarkan pasti akan dikejar,” ungkap Kiss yang tercatat sebagai warga di Desa Ngawen RT 3 RW 2, Kecamatan Cluwak, Pati.

Wanita yang sudah dikaruniai satu orang anak ini mengatakan, selain menjual kain potongan batik tulis, dia juga menjual berbagai macam pakaian batik tulis siap pakai untuk semua umur. Produk yang di jual berbeda-beda,  ada yang berupa kemeja, sarung, kerudung, atasan wanita, dan ada pula pakaian untuk anak-anak. “Mulai dari pakaian orang tua hingga anak-anak semua ada, harga dan kualitas selalu menjadi nomer satu bagi saya,” unjarnya.

Dia menjelaskan, batik yang dijual tidak hasil pembuatannya sendiri, melainkan dia beli dari Batik Tjokro asal Pati. Kain tersebut kemudian dia kreasikan sesuai desain yang dia inginkan. Pemasaran yang dilakukan hanya menunggu pembeli yang datang di ruko miliknya. Sesekali dia juga mengikuti sebuah pameran. “Saya lebih suka (pemasaran) dari mulut ke mulut, lebih jelas untuk menjelaskannya,” ungkapnya.

Harga yang di tawarkan Gading Tjokro sangat beragam, berkisar antara Rp 60 ribu hingga Rp 1,5 Juta, tergantung proses pembuatan dan kain yang digunakan. Misalnya kemeja, dia jual seharga Rp 225 ribu hingga Rp 1 juta, atasan wanita dengan harga Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta, sarung Rp 175 ribu, kerudung mulai harga Rp 60 ribu dan untuk pakaian anak-anak mulai harga Rp 150 ribu.

“Kain potongan harganya antara Rp 100 ribu hingga 120 ribu, tapi tergantung kainnya, soalnya kain sutra itu lebih mahal. Untuk modal awal, kurang lebih Rp 100 juta, omzet tidak bisa dipastikan. Kadang ada pembeli, kadang juga seharian tidak ada, tidak seperti di mall. Sedangkan pembeli, kebanyakan masyarakat Kudus,” tambahnya.