Latest News

Meski Lumpuh Sejak Usia 5 Tahun, Sulikin Tak Pernah Patah Semangat untuk Menjadi Pelukis

SEPUTARKUDUS.COM, KUTUK – Sejumlah lukisan terlihat memenuhi beberapa buku gambar yang berukuran A4 di rumah kecil terbuat dari kayu dan bambu. Lukisan yang dibuat meliputi gambar manusia, naga, dan wayang yang dilukis dengan alat sederhana. Buku gambar tersebut milik Sulikin (20), pria yang sejak usia lima tahun harus duduk di atas kursi roda karena lumpuh. Meski begitu, dia tetap bersemangat mengejar cita-citanya menjadi pelukis.
sulikin warga kutuk lumpuh sejak kecil
Sulikin melihatkan lukisan hasil karyanya di rumah sederhana di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan. Foto: Sutopo Ahmad


Sembari melukis, Likin, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang cita-citanya sejak kecil tersebut. Dia mengaku suka melukis sejak dirinya masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Saat ini banyak tetangganya yang memintanya untuk melukiskan objek. Pesanan itu kebanyakan dari siswa-siswi SD. 

“Sejak kecil saya memang suka menggambar, kadang waktu SD saya sering disuruh ikut dalam acara lomba menggambar. Kalau gambar ini, semua pesanan dari teman dan siswa-siswi sekolah. Hitung-hitung mengisi kesibukan dengan menggambar di rumah, sekaligus berusaha meraih cita-cita untuk menjadi pelukis,” ungkap Likin waktu ditemui di rumahnya, Desa Kutuk RT 4 RW 4, Kecamatan Undaan, Kudus.

Baca juga: Buruh Tani di Kutuk Ini Hidupi Suami dan Anaknya yang Lumpuh Menahun, Berharap Bantuan Dermawan

Pria yang mengaku hanya lulusan SD ini mengatakan, sejumlah buku gambar dan alat untuk menggambar dia peroleh dari ibunya, Sukijah (55). Menurutnya, ibunya membeli peralatan tersebut di Pasar Kalirejo, Undaan, Kudus, dengan mengendarai sepeda.  

Dia menjelaskan, pesanan yang dia buat tidak pernah dia kasih patokan harga. Dia mengaku menerima berapapun upah yang diperoleh dari para pemesan lukisan yang dia buat. “Terserah mereka mau memberi berapa. Kadang per gambar dihargai Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, kadang juga ada gambar yang sudah diambil tapi tidak dibayar,” ungkapnya.

Dia menambahkan, selain melukis, dia juga beternak ayam di rumah. Selain itu, terkadang teman-temanya yang sering bermain ke rumah meminta tolong pada dirinya untuk memotong rambut. Dia mengaku mempunyai bakat untuk mencukur berawal dari kebiasaan dirinya setiap kali mencukur ayahnya yang sedang sakit menahun.

“Saya tidak pernah malu memiliki kondisi seperti ini, tetap bersyukur menerima apa adanya. Saya tahu, semua ini sudah takdir dari Tuhan. Saya cuma berharap bisa meringankan beban orang tua, itu saja,” tambahnya.